Dalam perjalanan menuju Baitullah untuk bertemu Tuhan ( Qs 18 : 110 )secara garis besar dpt terbagi Empat tahap, yaitu :
Tahap Pertama.
Merujuk pada firman Allah “ Jika kamu percaya kepada Allah hendaklah kamu Tawakal kepadaNya jika sebenarnya kamu muslim “ ( Qs 10 : 84 ).
Ikrarkan bahwa Salik ikhlas apa yg akan Allah tentukan pada dirinya apapun itu.
Tahap Kedua.
Merujuk pada firman Allah “ Wahai Jiwa yang tenang kembalilah pada Tuhanmu “ ( Qs 89 : 27 - 28 ). Salik harus melewati ayat tersebut yaitu membuat Jiwa tenang atau yang disebut dengan Muthmainnah.
Jiwa yang tenang itu yang bagaimana ? Hati yang adem, damai , tentram, sejuk , amarah dapat dikendalikan, kasih sayang pd semua makhluk, jauh dari sifat prilaku pembenci - pendendam, tukang fitnah
dan prilaku buruk yang lain nya.
Agar Jiwa tenang yang sebelumnya keras membatu, maka harus ditempa dengan berbagai latihan,seperti melakukan puasa makan/minum, puasa panca indra dari hal yg tidak baik/kurang manfaat, puasa tidur, dzhikir diruang sunyi dgn meditasi dll dan jika diperlukan hukum bila nafsu bandel.
Sambil beramal kebajikan dengan keikhladan , latihan menenangkan jiwa terus dilakukan sampai kematian tiba.
Tahap ketiga.
Merujuk pada firman Allah “ Bunuhlah dirimu ! Demikian lebih baik bagimu pada sisi Tuhan ( Qs 2 : 54 ).
Untuk mempertegas dari tahap pertama dan tahap kedua yang telah dilalui, harus
menghilangkan keakuan diri, agar bersih dari sifat yg mempersekutukan Tuhan, yakinkan apa dikerjakan itu semua Dia.
Kosongkan hati setitikpun tidak boleh ada kotoran , salik harus fanakan diri ( nama2 akan lupa ), huruf 2 di tinggalkan, salik akan kelihatan gila tetapi tidak gila, masih dalam kesadaran sampai tiba Jiwa keluar dari Jasad. Mulailah dzikir / meditasi tanpa huruf dan suara, semua lintasan dipikiran / hati buang.
Tahap Keempat.
Merujuk pada firman Allah “ Mengapa tidak kamu kembalikan nafas, bila ia telah sampai kerongkongan. Padahal kamu melihat mayat itu. Dan kami lebih dekat dari pada kamu tetapi kamu tidak melihat kami “ ( Qs 56 : 83 - 85 ).
Tibalah saat Jiwa sudah keluar dari Jasad, atas kejadian ayat tersebut harus dialami Salik dalam kesadaran dan bukan dimimpi, karena ayat tersebut menunjukan tentang mati dan si Salik sedang dalam perjalanan ke Baitullah yang harus melalui satu pintu yaitu mati, saat itu ditujukan untuk mati sebelum mati.
Merujuk firman Allah “ Siapa yang buta di dunia , maka diakhirat dia akan buta dan tersesat jauh “ ( Qs 17 : 72 ). Untuk itu agar tidak buta atau tersesat diakhirat, maka si Salik harus merasakan’Mati Sebelum Mati’ agar paham jalan nya sebelum meninggal senyatanya, utk bertemu dgn Diri Sejati & Tuhan.
Yang disebut kamu dalam Qs 56 : 83 - 85 itu adalah Jiwa dan yang disebut Kami itu adalah Ruh ( Diri Sejati ) dan Tuhan.
Pada saat Jiwa sedang melihat Jasad nya kesadaran harus full agar ‘ kalimat tetapi kamu tidak melihat kami ‘ tidak terjadi tapi bila tidak melihat, maka proses kematian harus diulang kembali sampai sadar siapa Diri Sejati dan Tuhannya yang tentu dgn penyaksian dan bonus bila sempat diajak berkalam denganNya.
Jadi siapa yang menyaksikan dan dapat berkalam dengan Tuhan ? Yaitu yang paling dekat dengan Tuhan atau apa yang disebut dengan kekasihnya itu adalah ….. Diri Sejati “ Bukankah Aku Tuhanmu “ ( Qs 7 : 172 ), ini menunjukan bahwa Tuhan dan Ruh atau Diri Sejati dapat berkalam dan saling menyaksikan sebagaimana dalam kalimat syahadat, bahkan Tuhan juga dlm berfirman suka pakai kata “ Kami “ yang dapat diartikan Ruh itu adalah RuhNya - bukan ciptaanNya sebagaimana diklaim pendapat ustad / ulama syareat, bahkan orang makri’fat katakan Ruh itu ya Dia juga.
Lalu tugas Jiwa diakhirat apa ? Tugasnya yaitu membuka tabir siapa dirinya yang sebenarnya ! Jika tidak bisa membuka Ia akan berada disurgaNya tapi tidak bisa menyaksikan Tuhan atau masuk ke neraka. Untuk Jiwa tenang dan bisa buka penutup dirinya Ia akan kesurga dan menyaksikan Tuhan.
No comments:
Post a Comment