Monday, June 1, 2026

MELIHAT ALLAH

 Pada permulaannya, akal manusia akan berkata:

mustahil Allah dapat dilihat.


Sebab Allah adalah Yang Maha Suci dari segala keserupaan.


Sebagaimana firman-Nya:

Laysa kamitslihi syai’un

Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.


Dia bukan suara dan bukan huruf,

la sautun wa la harfun.

Dia juga tidak dapat dijangkau oleh pandangan mata:


La tudrikuhul abshar

Penglihatan tidak mampu mencapai-Nya.


Namun Allah juga adalah Yang Maha Dzahir dan Maha Batin.


Dalam rahasia makrifat para arif,

Dzahir-Nya disebut sebagai Wujud Rububiyah,

sedangkan Batin-Nya adalah Wujud Uluhiyah.


Rububiyah adalah tajalli kekuasaan-Nya

yang tampak pada alam penciptaan,

yang zahir pada batang tubuh dan seluruh kejadian.


Sedangkan Uluhiyah adalah tajalli yang luhur dan halus,

yang memancar pada ruh,

yang meliputi dan menghidupi seluruh diri.


Dalam isyarat sabda Nabi disebutkan:

“Al-jasadu minhu wal-batinu minhu.”

Tubuhmu adalah tanda dari perbuatan Tuhanmu,

dan batinmu pun tidak lain

adalah rahasia dari wujud-Nya jua.


Kemudian Rasulullah menegur para sahabatnya dengan lembut:


“Barang siapa memandang sesuatu tanpa menghadirkan Allah di dalamnya, maka yang dipandang itu batil.”


Karena bagi orang yang mengenal,

segala sesuatu hanyalah cermin yang memantulkan Wujud-Nya.


Suatu ketika Ali ibn Abi Talib bertanya kepada Muhammad:


“Wahai Rasulullah, dengan apa engkau melihat Tuhanmu?”


Rasulullah tersenyum dan bersabda:


Araitu Rabbi bi qalbi.

“Aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku.”


Di sinilah rahasia itu terbuka.

Allah tidak dapat disaksikan dengan mata kepala,

tetapi dapat disaksikan dengan mata hati yang hidup.

Maka melihat Allah bukan dengan penglihatan zahir,

melainkan dengan kesadaran batin yang tenggelam dalam-Nya.


Dan Rasulullah juga memberi isyarat:


“Kalian tidak akan melihat Tuhan kalian hingga kalian mati.”

Namun para arif memahami,

kematian yang dimaksud bukan hanya kematian jasad.

Ia adalah mati maknawi.


Sebagaimana hikmah para sufi:


Mutu qabla an tamutu.

“Matilah sebelum engkau mati.


Yakni mematikan keakuan diri.

Mematikan rasa:

Aku berkuasa

Aku berkehendak

Aku melihat

Aku mendengar

Aku berilmu

Aku hidup.


Ketika keakuan itu lenyap,

barulah tersingkap hakikat bahwa:


Segala sesuatu selain Allah adalah fana.


Dan di mana pun engkau memandang,

di situlah tampak isyarat wajah-Nya.


Sebagaimana firman-Nya:

“Ke mana pun kamu menghadap, di situlah Wajah Allah.”


Maka para arif pun sampai pada satu kesaksian sunyi:


La maujuda illa Allah.

Tiada yang benar-benar maujud,

kecuali Allah semata.


MENGHADIRKAN ALLAH SETIAP SAAT


Banyak manusia…

mengingat Allah

hanya saat hidupnya berat.


Saat hati gelisah… baru berdoa.

Saat kehilangan… baru mendekat.

Saat tidak punya jalan… baru menangis kepada-Nya.


Namun ketika hidup terasa baik-baik saja…

hati kembali sibuk oleh dunia.


Lupa.

Lalai.

Tenggelam dalam rutinitas.


Padahal…

menghadirkan Allah

bukan hanya untuk saat-saat sulit.


Bukan hanya di sajadah.

Bukan hanya setelah menangis.

Bukan hanya ketika membutuhkan pertolongan.


Tapi menjadikan Allah

selalu hidup di dalam kesadaranmu.


Saat berjalan… sadar Allah melihatmu.


Saat berbicara… sadar Allah mendengarmu.


Saat sendirian… sadar Allah tetap bersamamu.


Saat mendapat nikmat… sadar itu dari Allah.


Saat diuji… sadar Allah tidak pernah meninggalkanmu.


Inilah kehidupan hati yang sadar.


Karena banyak orang hidup…

tapi hatinya tertidur.


Tubuhnya bergerak.

Pikirannya sibuk.

Aktivitasnya penuh.


Namun Allah

jarang benar-benar hadir

dalam kesadarannya.


Maka hidup terasa kosong.


Karena hati manusia

tidak diciptakan

untuk jauh dari Allah.


Menghadirkan Allah setiap saat

bukan berarti

engkau harus terus berbicara tentang agama.


Bukan juga berarti

harus selalu berada di tempat ibadah.


Tapi di tengah hidup biasa…

hatimu tetap terhubung.


Saat bekerja…

engkau tidak curang

karena sadar Allah melihat.


Saat marah…

engkau menahan diri

karena sadar Allah mengetahui isi hatimu.


Saat sendiri…

engkau tetap menjaga diri

karena merasa dekat dengan-Nya.


Di situlah dzikir

bukan hanya di lisan…


Tapi menjadi keadaan hati.


Dan ketika Allah

mulai benar-benar hadir

dalam kehidupan sehari-harimu…


hidup perlahan berubah.


Bukan karena masalah hilang seluruhnya…


Tapi karena hati

tidak lagi kosong.


Ada tempat kembali

di setiap keadaan.


Ada tempat bersandar

di setiap kegelisahan.


Ada rasa ditemani

bahkan di tengah kesendirian.


Karena orang yang menghadirkan Allah…

tidak menjalani hidupnya sendirian.


Ia berjalan di dunia…

dengan hati yang terus sadar:


“Aku bersama Allah…

dan Allah selalu bersamaku.”


ALLLAH MUHAMMAD, MUHAMMAD ALLAH itu kelihatan dua tapi satu juga adanya. 


Mana mungkin ALLAH dan MUHAMMAD itu bisa dipisah, ALLAH itu AKU dan MUHAMMAD itu pun AKU.


ALLAH itu batin dan MUHAMMAD itu zahir. AKU yg zahir dan AKU juga yg batin.


Barang siapa yg mengenal MUHAMMAD maka kenal lah ia akan ALLAH . Sesungguhnya MUHAMMAD itu lah tempat memandang nyatanya Allah.


Didalam mempelajari ilmu Makrifat, apabila di sebut MUHAMMAD itu ertinya NUR MUHAMMAD bukan MUHAMMAD BIN ABDULLAH.


Ini yg dikatakan HAKIKAT MUHAMMAD.


MUHAMMAD ITU LAH KESEMPURNAAN YG AMAT TERPUJI. SANGAT NYATA DAN TERANG PADA DIRI INSAN. 


INSAN ITULAH LETAKNYA SEGALA RAHASIA IAITU RAHASIA ALLAH DAN JUGA RAHASIA MUHAMMAD.


APABILA RAHASIA SUDAH TIDAK MENJADI RAHASIA DAN SEGALA2 NYA NYATA DENGAN SEBENAR2NYA NYATA MAKA INSAN ITU MENJADI SEMPURNA. INSAN ITU AKAN DIPANGGIL INSAN KAMIL.


RENUNG2KANLAH

Kamu ingin berbicara bab Tauhid. Tauhid itu katanya mengesakan Allah. Soalan Ayah di sini, macam mana kamu mengesakan sesuatu yg kamu sendiri tidak kenal? Cuba hawab.


Maka itu sebelum berbicara bab Tauhid, pelajari dulu ilmu Makrifatullah. Apabila dah faham dan mendapat kesedaran yg kemuncak, Tauhid itu akan datang dengan sendiri. 


Apabila anda sedar bahawa selain dari Allah itu bersifat tidak ada maka yg sebenar2 ada itu lah Allah semata2. Bererti disini, anda itu sudah tidak lagi melihat keberadaan diri sendiri, barulah yg wujud dan maujud itu hanya Allah semata2


Kenal diri maka kenal Allah. Kenal Allah, binasa diri. Barulah yg dikatakan tauhid itu datang dengan sendirinya. Jika faham dalam keadaan putus, apakah perlu mengesakan sesuatu yg sudah esa?


Renung2kanlah

No comments:

Post a Comment