Friday, May 15, 2026

 Mungkin sebab Nik Zawawi sebut “minta maaf atas kekhilafan” selepas Hina Sahabat Nabi, maka Tuan Ibrahim petik kaedah fiqh yang ada perkataan “khilaf”.

2. Kaedah yang dia guna:
الخروج من الخلاف مستحب
“Keluar daripada khilaf adalah digalakkan.”
3. Khilaf Nik Zawawi maknanya “kesilapan”. Khilaf dalam kaedah fiqh pula merujuk kepada perbezaan pandangan ulama muktabar dalam isu fiqh.
4. Mungkin Tuan Ibrahim nak maksudkan “keluar daripada kesilapan itu digalakkan”, tapi itu bukan maksud asal kaedah tersebut.
5. Kaedah ini sebenarnya digunakan dalam masalah fiqh furu’ yang memang ada khilaf muktabar di kalangan ulama.
6. Contohnya, mazhab Syafi‘i berpandangan sentuhan lelaki dan perempuan ajnabi membatalkan wuduk, manakala mazhab lain ada yang kata tidak. Maka ambil wuduk semula dianggap lebih baik untuk keluar daripada khilaf.
7. Setakat yang diketahui dalam tradisi Ahlus Sunnah, tak ada khilaf ulama muktabar yang menerima dakwaan Saidina Abu Bakar RA sebagai “bapak ceti pemeras orang miskin” atau Saidina Umar RA sebagai “hobi berzina dan curi isteri serta anak dara orang” di zaman Jahiliah.
8. Itu bukan “isu khilaf”. Itu dakwaan berat yang perlukan sandaran sejarah sahih.
9. Sepatutnya Tuan Ibrahim terus terang kepada masyarakat bahawa fakta itu tidak sahih, bukan membawa kaedah fiqh yang tak ada kena mengena untuk ‘white washing’ kenyataan Nik Zawawi.
10. Ironinya, dalam kenyataan sama, dia ajak masyarakat mendalami ilmu dan merujuk ulama terdahulu, sedangkan penggunaan Qawa’id Fiqhiyyah dalam kenyataan itu sendiri boleh dipersoalkan dari sudut disiplin ilmu.
11. Bidang pengajian formal dia lebih tertumpu kepada dakwah dan kepimpinan berbanding pengkhususan Syariah dan Usul Fiqh. Jadi lebih baik perkara teknikal seperti ini dirujuk kepada mereka yang benar-benar mendalami disiplin tersebut.
12. Kesimpulannya, rakyat patut mula persoal, betul ke pemimpin PAS yang membawa imej “ulama” itu benar-benar ulama? Atau sekadar menggunakan title ulama untuk menguatkan pengaruh politik?

Monday, May 11, 2026

RAHSIA TAUHID AHMAD DAN MUHAMMAD

 AHMAD & MUHAMMAD RAHASIA TAUHID DI DALAM DIRIMU


“Jika ego lenyap, yang tersisa bukan dirimu... tapi

Dia."

"Jika hatimu pernah merasakan kehadiran-Nya, simpan konten ini. Karena jalan AHMAD dan MUHAMMAD hanya dimengerti oleh yang sedang mencari."

Pikiran mengenal nama-Nya.

Hati merasakan hadir-Nya.

Ruh bersaksi: tiada yang ada selain Dia.


Murid:

Guru..aku membaca bahwa AHMAD adalah batin,

MUHAMMAD adalah zahir. Lalu dikatakan BAL AHAD, manunggaling kawulo Gusti. Apakah aku ini Allah?


Guru tersenyum teduh.

"Jika engkau bertanya begitu, berarti engkau belum mengenal siapa dirimu."

Murid terdiam.

"Aku hanya takut tersesat."


Guru:

"Takutmu itu baik. Karena banyak yang mabuk rasa lalu lupa syariat."

“Dengarlah. AHMAD adalah rahasia ruhmu. la adalah cahaya kesadaran yang membuatmu hidup.

Tapi cahaya itu bukan Tuhan. la hanya pantulan Nur Allah di dalam wadah dirimu."


Murid:

"Lalu MUHAMMAD?"


GUrU:

"MUHAMMAD adalah tubuhmu. Tangannya bekerja, matanya melihat, kakinya berjalan. la adalah utusan kehendak Allah di alam jasad."

"Jika AHMAD adalah api, MUHAMMAD adalah

pelita. Tanpa api, pelita gelap. Tanpa pelita, api tak terlihat."


Murid menunduk, dadanya bergetar.

"Lalu apa BAL AHAD itu, Guru?"


Guru memejamkan mata.

"BAL AHAD adalah saat engkau lupa pada dirimu

dan hanya melihat Dia."

"Ketika ego hilang, ketika MIM—jasad dan nafsu— ditanggalkan, yang tersisa hanya kesaksian:

AHAD... Yang Esa."


Murid:

"Apakah itu fana?"


Guru:

"Ya. Tapi ingat. Fana bukan menjadi Tuhan. Fana adalah hilangnya klaim 'aku'. Yang ada hanya 'Dia'"


Murid:

"Lalu mengapa ada 'Mengenal nama wilayah

pikiran' dan 'mengenal rasa wilayah hati'?"


Guru:

"Karena pikiran mengenal Allah dengan kata dan

konsep. Tapi hati mengenal Allah dengan rasa."

"Pikiran berkata: Allah Maha Ada.

Hati berbisik: Aku sedang dihadiri-Nya."


Murid menangis.

"Guru... bagaimana jika aku sudah merasakan

kehadiran itu?"

Guru menepuk dadanya.

"Semakin engkau merasa dekat, semakin engkau harus merasa hina."

"Karena orang yang benar-benar dekat tidak

berkata: Aku bersatu.

la berkata: Aku tiada, Dia segalanya."


Murid bersujud.

"Ajari aku agar tidak tersesat dalam cahaya."


Guru berbisik pelan:

"Pegang syariat, tenggelamkan ego, hidupkan zikir.

Maka AHMAD hidup, MUHAMMAD tunduk, dan BAL AHAD hanya menjadi kesaksian hati, bukan klaim diri."


#tasawuf #makrifat #nasehatdiri #ngajirasa #semuaorang

RAHSIA ZAT ALLAH

 Firman Allah di dalam Hadis Qudsi: 


مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ


Artinya: Barangsiapa yang telah mengenal dirinya sendiri, niscaya ia telah mengenal tuhannya.


Mengenal diri berarti mengenal ujud diri sendiri, apabila kita telah mengenal ujud diri maka kau akan dapat melihat dan mengenal rupa diri yang sebenarnya. Karena sebenarnya ujud hak mutlak itu melihat rupa diri.


Firman Allah di dalam Hadis Qudsi: 


اَلْإِنْسَانُ سِرِّيْ وَأَنَا سِرُّهُ


Artinya: Manusia itu rahasia-Ku, dan Aku adalah rahasianya".


Apabila kau  melihat rahasia diri dan rupa diri yang sebenarnya berarti kau telah melihat rahasia tuhan.


Rahasia tuhan pada manusia itu adalah Rasa, Rasa adalah Rasulullah. Rasa adalah Hidup, sedangkan Hidup adalah Tuhan.


Jadi melihat rupa diri, rupa rasa, rupa hidup didalam Sirr berarti kau telah melihat zohir tuhan. Inilah rahasia namanya, dan inilah yang dinamakan Asya' disisi Asya'.


Firman Allah di dalam Hadis Qudsi: 


ذلك الإنسان هو زوهير الحقيقي، ظلي والملاك الذي أنحدر منه.


Artinya: Manusia itu adalah Zohirku yang nyata, bayang-bayangku dan malaikat tempat Aku turun.


Jika kita melihat diri yang sejati yakni melihat rasa, berarti kita melihat zohir tuhan yang nyata, karena ujud tuhan yang nyata itu ada pada manusia.


Firman Allah dalam Hadis

Qudsi: 


الجوهر هو الذي يوجد منك، إذا لم تنكر الذات التي بداخلك فأنا لست كاملاً.


Artinya: Ujud itu (Ada) dia yang ada daripada kamu, jika kamu tidak nafikan diri yang ada pada kamu maka tiadalah sempurna kepadaku.


Jadi ujud itu adalah Nafsiyah sifat keperibadian Dzat Tuhan. Maka yang dikatakan ujud itu adalah Dia (Tuhan) dan yang ada pada kamu (insan) harus meniadakan diri, lenyap diri pada Dzat Tuhan. Itulah Ujud Yang Sebenarnya.


Jadi Ma'rifatullah itu melihat ujud Hak Mutlak dan menyatu dengan Hak Mutlak yaitu tempat Rasa dan Hidup yang sejati, dengan kalam yang tiada lafas dan tiada suara.


Sirr hening kembali kepada hening, tegakkan Rasa, hilangkan Rasa tinggal Hidup, lupa diri lupa segalanya. Itu adalah Rahasia Kami Dzat Allah Ta'ala.

#creatorsearchinsights #hakikatmakrifat #fypage #fypシ゚ #hening 

Allah Hu

 Ketika Nama-Nya Menjawab dari Dalam Dirimu


“Tahukah kamu... ketika kau menyebut Allah... Hu, itu bukan sekadar zikir. Itu adalah percakapan antara dirimu dan Dia yang bersemayam dalam hatimu."


''Allah' adalah panggilan seorang hamba.

'Hu' adalah jawaban dari Sang Kekasih.

Dan di antara keduanya, hati mengenal siapa yang sebenarnya selalu hadir."


Murid:

Assalamualaikum, Guru.

Izinkan aku bertanya sesuatu yang terus berputar

dalam hatiku.

Apa makna dari "Allah... Hu" dan "Hu... Allah"?

Aku sering mendengar para salik menyebutnya

dalam dzikir, tapi tak sepenuhnya paham rasanya.


Guru:

Wa'alaikumussalam, anakku.

Pertanyaanmu halus,, hanya hati yang sudah mulai bergetar oleh panggilan-Nya yang akan bertanya begitu. Dengarlah baik-baik, sebab makna dua lafaz itu bukan untuk dipahami dengan akal, tapi dirasakan dengan ruh.


Murid:

Dirasakan, Guru?


Guru:

Ya. Ketika engkau menyebut "Allah..., itu panggilan seorang hamba yang sedang mencari Tuhannya.

Suara yang naik dari bawah, dari bumi, dari hati yang haus akan Cahaya.

Dan ketika setelahnya engkau ucapkan "Hu..., itu tanda engkau telah menyentuh kehadiran-Nya Dia yang selama ini kau cari, kini menjawab dari dalam dirimu sendiri.

"Allah... Hu" adalah perjalanan dari kesadaran hamba menuju Tuhan.

Dari "aku ingin mengenal-Mu" menuju "Engkaulah

yang selalu ada."


Murid:

Lalu bagaimana dengan "Hu... Allah," Guru?


Guru:

Itulah perjalanan sebaliknya. Ketika kesadaranmu telah disinari oleh-Nya, kau tak lagi memanggil karena mencari, tapi karena Dia yang menggerakkanmu untuk menyebut Nama-Nya.

"Hu... Allah" adalah bisikan dari atas ke bawah — dari Dia yang memanggilmu kembali ke wujud yang fana. Seakan ruhmu berkata,

"Dia... yang Esa itu... menampakkan diri dalam

setiap hembusan napas,

dan Nama-Nya adalah tanda bahwa kau masih

dalam penjagaan-Nya."


Murid:

kata? Jadi Guru... kedua lafaz itu bukan sekadar urutan


GUrU:

Bukan, anakku.

Keduanya adalah dua arah dari satu cinta.

"Allah... Hu" — zikir para pencari.

"Hu... Allah" — zikir para yang telah menemukan.

Yang pertama menembus ke dalam, yang kedua memancar ke luar.

Yang pertama membawa rasa rindu, yang kedua menumbuhkan tenang.

Ketika engkau belum mengenal, lidahmu yang menyebut "Allah."

Tapi ketika kau sudah mengenal, ruhmulah yang berbisik "Hu."

Dan ketika keduanya menyatu,

tidak lagi ada jarak antara penyebut dan yang disebut.


Murid:

Jadi ketika aku berzikir "Allah... Hu," aku sebenarnya sedang berbicara dengan Dia yang ada di dalam diriku?


Guru:

Benar, nak. Namun jangan salah paham — bukan berarti engkau adalah Dia,

tapi Dia lah yang paling dekat, lebih dekat dari urat lehermu sendiri. Zikirmu bukan untuk memanggil Dia datang, tapi untuk menyadarkan hatimu bahwa Dia tak pernah pergi.


"Allah' adalah panggilan cinta dari bumi ke langit, sedangkan 'Hu' adalah jawaban lembut dari langit ke hati."

"Dan di antara keduanya, engkau mengenal siapa yang sebenarnya selalu hadir."

Di mana Baitullah ketika Solat

 1.Baitullah Bukan Hanya Bangunan

Secara syariat, Baitullah adalah Ka'bah di Mekkah.

Namun para ulama tasawuf mengatakan:

Ka'bah adalah rumah Allah di bumi,

tetapi hati orang beriman adalah tempat pandangan Allah.

Dalam hadits qudsi disebutkan makna yang sangat dalam:

“Langit-Ku dan bumi-Ku tidak mampu memuat-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman mampu memuat-Ku.”

Artinya:

Allah tidak bertempat

tetapi cahaya makrifat Allah muncul di hati manusia

2. Rahasia Qiblat Dalam Diri

Allah berfirman:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

(QS. Qaf:16)

Artinya:

Allah tidak jauh

Allah tidak perlu dicari di langit

Allah dekat dengan hati manusia

Tetapi manusia tertutup oleh:

ego (nafsu)

dunia

kelalaian

3. Ketika Shalat Menjadi Perjalanan

Shalat sebenarnya adalah perjalanan kembali kepada Allah.

Urutannya sangat dalam:

Takbiratul ihram

➡ meninggalkan dunia

Berdiri membaca Al-Fatihah

➡ dialog dengan Allah

Ruku

➡ merendahkan diri

Sujud

➡ titik paling dekat dengan Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud.”

4. Mengapa Sujud Sangat Rahasia

Saat sujud:

kepala (yang paling mulia) diletakkan di tanah

ego dihancurkan

manusia kembali ke asalnya (tanah)

Disitulah hijab mulai terbuka.

Para arif berkata:

“Barang siapa menemukan Allah dalam sujudnya, maka ia menemukan jalan pulang.”

5. Qiblat Para Arifin

Para pencari Allah tidak lagi melihat hanya arah Ka'bah.

Mereka melihat:

Ka'bah → arah tubuh

Allah → arah hati

Mereka shalat bukan hanya gerakan, tetapi perjumpaan.

Seperti yang dirasakan oleh Nabi saat Mi'raj, ketika beliau sampai di Sidratul Muntaha.

Shalat sebenarnya adalah mi'rajnya orang beriman.

6. Rahasia Terakhir

Para ulama tasawuf mengatakan:

Awalnya engkau shalat menghadap Ka'bah.

Kemudian engkau shalat menghadap Allah.

Akhirnya engkau shalat dengan Allah.

Artinya:

Allah yang menggerakkan

Allah yang disembah

Allah yang dituju

✨ Renungan mendalam:

“Banyak orang shalat menghadap Ka'bah,

tetapi hatinya menghadap dunia.

Sedangkan para arif,

walaupun tubuhnya di bumi,

hatinya berada di hadapan Allah.”

Ini Bukan Zikirmu

 INI BUKAN ZIKIRMU. 

---

KAU HANYA WADAH.

"Zikir Bukan Milikmu." (Yang Bekerja di Dalam Dirimu Bukan Kamu.) "Kau mengira kau sedang berdzikir... padahal Allah sedang bekerja di dalam dirimu." "Berhentilah mengklaim amal. Biarkan Allah bekerja." Renungkan. Simpan. Jangan sombong. Bibirmu bergerak. Hatimu bergetar. Air matamu jatuh. Bukan karena engkau hebat-tapi karena Allah mengizinkanmu mengingat-Nya. 

---

Zikir bukan milik hamba. Hamba hanya tempat Allah bekerja. 

---

Murid: Guru... aku bingung. Aku bekerja, tapi katanya Allah yang menggerakkan. Aku berusaha, tapi Allah yang memberi hasil. Aku berdoa, Allah yang menjawab.Aku taat, Allah yang memberi taufik. Lalu... kalau aku berdzikir, siapa yang sebenarnya bekerja? 

---

Guru: Kalau pertanyaan itu lahir dari dadamu... 

itu tanda engkau sedang ditarik keluar dari klaim diri. Duduklah. Zikir bukan perkara ringan. 

---

Murid: Bukankah zikir itu amalanku, Guru? Aku melafalkan, aku meluangkan waktu, aku memaksa diri. Guru: Itu yang tampak. Tapi tasawuf tidak berhenti di yang tampak. Coba jawab jujur: siapa yang pertama kali menggerakkan keinginan berdzikir di hatimu? 

---

Murid: Aku... tidak tahu. Guru: Nah. Di situlah kebohongan ego mulai runtuh. Jika Allah tidak menghendaki,lidahmu akan berat, hatimu akan sibuk, dan waktumu akan selalu "tak sempat". 

---

Murid: Jadi... keinginanku berdzikir bukan dariku? Guru: Keinginanmu hanyalah alamat. Yang mengirim suratnya adalah Allah. Engkau mengira engkau berdzikir, padahal Allah sedang mengingatkanmu agar mengingat-Nya. 

---

Murid: Lalu rasa yang kadang muncul... tenang, hangat, kadang sesak lalu lega... itu apa? Guru: Itu bukan hasil latihanmu. Itu pekerjaan Allah di dalam dadamu. Zikir bukan untuk memamerkan suara, tapi untuk membongkar penghalang. Ego dikikis. Nafsu ditertibkan. Luka lama dibuka... lalu disembuhkan. 

---

Murid:Tapi Guru, kenapa banyak orang berdzikir bertahun-tahun, namun tetap keras, sombong, dan merasa paling benar? Guru: Karena mereka mengklaim zikir sebagai miliknya. Selama engkau berkata, "Aku rajin berdzikir," "Aku sudah tinggi," "Aku sudah sampai," maka yang bekerja bukan zikir- melainkan ego yang menyamar sebagai ibadah. 

---

Murid: Lalu... zikir yang benar itu bagaimana? Guru: Zikir yang benar menghilangkan klaim, bukan menambah kebanggaan. Pada awalnya engkau berkata: "Aku berdzikir." Di tengah jalan engkau sadar: "Aku dizikirkan." Di kedalaman, tidak ada lagi "aku". Yang ada hanya kehadiran. 

---

Murid: Jadi... siapa aku di hadapan zikir?Guru: Engkau wadah. Tempat Allah bekerja. Seperti pena di tangan penulis. Pena bergerak, tapi bukan dia yang menulis. Murid: (suara bergetar) Kalau begitu... aku tak punya apa-apa? 

---

Guru: Justru di situlah engkau mulai punya segalanya. Karena hamba yang selamat adalah hamba yang tahu: Zikir bukan miliknya. Hidayah bukan miliknya. Rasa bukan miliknya. Istiqamah bukan miliknya. Semuanya milik Allah. 

---

Murid: Lalu tugasku apa, Guru? 

Guru: Hadir. Rendah. Dan jangan menghalangi kerja Tuhan di dalam dirimu.Ingat ini baik-baik: Engkau berdzikir → Allah yang menggerakkan. Engkau merasa → Allah yang menghadirkan. Engkau tenang → Allah yang menetapkan. Engkau istiqamah → Allah yang menjaga. Jika suatu hari zikir terasa hilang, jangan sombong saat ada, jangan putus asa saat pergi. Karena sejak awal... 


zikir itu bukan milikmu. Murid: Sekarang aku paham, Guru... Guru: Belum. Kalau kau benar-benar paham, yang tersisa hanya satu kalimat di hatimu: "Aku hanyalah tempat Allah bekerja." 

Saturday, April 18, 2026

 Bila PMX cakap “jadi Perdana Menteri ini susah”, ramai terus ketawa sinis.


“Baru tahu langit tinggi rendah?”

“Dulu bukan main kritik orang…”


Sedap bunyi. Tapi kosong makna.


Hakikatnya, memang susah.

Bukan susah biasa, tapi susah yang tak semua orang sanggup tanggung.


Bayangkan…

Dalam satu masa, kena fikir ekonomi negara yg tak menentu, tekanan geopolitik dunia, kebajikan rakyat yg makin mendesak, kestabilan politik yg rapuh, dan masa depan anak-anak kita.


Ini bukan kerja petang lepak minum kopi. Ini amanah yang makan siang malam.


Dan setakat hari ini, apa yang kita nampak?

Bukan gambar main golf.

Bukan cerita shopping luar negara.

Yang kita nampak, kerja.

Mesyuarat tanpa henti.

Turun jumpa rakyat.

Urus negara siang malam.

Tak glamor, tapi itulah realiti kepimpinan.


Jadi kpd pembangang, Kalau betul nak lawan, jangan lawan dengan mulut.

Lawan dengan kerja.

Kalau dia kerja 24 jam, kamu kena tunjuk kamu boleh buat lebih.


Bukan lebih bising, tapi lebih hasil.

Sebab rakyat hari ini dah berubah.

Mereka tak lagi kagum dengan siapa paling kuat menjerit.


Rakyat sedang perhati…

Siapa yang benar-benar bekerja.

Dan siapa yang sekadar bermain persepsi.


Politik matang bukan pentas kebencian.

Ia medan tanggungjawab.

Dan di medan itu, yg bertahan bukan yg paling lantang, tetapi yang paling kuat memikul beban.


#nakmundurpilihpas #PasPenipu #PNipu #AnwarIbrahimPM10 #MalaysiaMadani #RancakkanMadani #AnwarIbrahim