Ketika Nama-Nya Menjawab dari Dalam Dirimu
“Tahukah kamu... ketika kau menyebut Allah... Hu, itu bukan sekadar zikir. Itu adalah percakapan antara dirimu dan Dia yang bersemayam dalam hatimu."
''Allah' adalah panggilan seorang hamba.
'Hu' adalah jawaban dari Sang Kekasih.
Dan di antara keduanya, hati mengenal siapa yang sebenarnya selalu hadir."
Murid:
Assalamualaikum, Guru.
Izinkan aku bertanya sesuatu yang terus berputar
dalam hatiku.
Apa makna dari "Allah... Hu" dan "Hu... Allah"?
Aku sering mendengar para salik menyebutnya
dalam dzikir, tapi tak sepenuhnya paham rasanya.
Guru:
Wa'alaikumussalam, anakku.
Pertanyaanmu halus,, hanya hati yang sudah mulai bergetar oleh panggilan-Nya yang akan bertanya begitu. Dengarlah baik-baik, sebab makna dua lafaz itu bukan untuk dipahami dengan akal, tapi dirasakan dengan ruh.
Murid:
Dirasakan, Guru?
Guru:
Ya. Ketika engkau menyebut "Allah..., itu panggilan seorang hamba yang sedang mencari Tuhannya.
Suara yang naik dari bawah, dari bumi, dari hati yang haus akan Cahaya.
Dan ketika setelahnya engkau ucapkan "Hu..., itu tanda engkau telah menyentuh kehadiran-Nya Dia yang selama ini kau cari, kini menjawab dari dalam dirimu sendiri.
"Allah... Hu" adalah perjalanan dari kesadaran hamba menuju Tuhan.
Dari "aku ingin mengenal-Mu" menuju "Engkaulah
yang selalu ada."
Murid:
Lalu bagaimana dengan "Hu... Allah," Guru?
Guru:
Itulah perjalanan sebaliknya. Ketika kesadaranmu telah disinari oleh-Nya, kau tak lagi memanggil karena mencari, tapi karena Dia yang menggerakkanmu untuk menyebut Nama-Nya.
"Hu... Allah" adalah bisikan dari atas ke bawah — dari Dia yang memanggilmu kembali ke wujud yang fana. Seakan ruhmu berkata,
"Dia... yang Esa itu... menampakkan diri dalam
setiap hembusan napas,
dan Nama-Nya adalah tanda bahwa kau masih
dalam penjagaan-Nya."
Murid:
kata? Jadi Guru... kedua lafaz itu bukan sekadar urutan
GUrU:
Bukan, anakku.
Keduanya adalah dua arah dari satu cinta.
"Allah... Hu" — zikir para pencari.
"Hu... Allah" — zikir para yang telah menemukan.
Yang pertama menembus ke dalam, yang kedua memancar ke luar.
Yang pertama membawa rasa rindu, yang kedua menumbuhkan tenang.
Ketika engkau belum mengenal, lidahmu yang menyebut "Allah."
Tapi ketika kau sudah mengenal, ruhmulah yang berbisik "Hu."
Dan ketika keduanya menyatu,
tidak lagi ada jarak antara penyebut dan yang disebut.
Murid:
Jadi ketika aku berzikir "Allah... Hu," aku sebenarnya sedang berbicara dengan Dia yang ada di dalam diriku?
Guru:
Benar, nak. Namun jangan salah paham — bukan berarti engkau adalah Dia,
tapi Dia lah yang paling dekat, lebih dekat dari urat lehermu sendiri. Zikirmu bukan untuk memanggil Dia datang, tapi untuk menyadarkan hatimu bahwa Dia tak pernah pergi.
"Allah' adalah panggilan cinta dari bumi ke langit, sedangkan 'Hu' adalah jawaban lembut dari langit ke hati."
"Dan di antara keduanya, engkau mengenal siapa yang sebenarnya selalu hadir."
No comments:
Post a Comment