﷽ ﺑِﺴْـــــــﻢِﺍﷲِﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِﺍﺍﺭَّﺣِﻴﻢ ﷽
السَّـــــــلاَمُ عَلَيــْــكُم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكـَـاتُه
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد
Penyaksian kepada Allah dalam ajaran tasawuf
dikenal dengan istilah Musyahadah. Ini adalah buah dari Ihsan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau
melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." (HR. Muslim).
1. Hakikat Penyaksian (Musyahadah).
Dalam tasawuf, Allah tidak bisa dilihat dengan mata indrawi di dunia karena Dia Laisa Kamitslihi Syai'un (tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya).
“Menyaksikan" di sini berarti:
• Melihat dengan Mata Batin (Bashirah): Allah
menyinari hati hamba-Nya sehingga ia mampu
melihat rahasia-rahasia Ketuhanan.
• Kehadiran Hati (Hadhur): Hati yang selalu merasa hadir bersama Allah, sehingga tidak ada ruang lagi untuk selain-Nya (Ghayr).
2. Tingkatan Penyaksian Menurut Para Sufi.
Para ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir al-Jilani membagi tingkatan ini menjadi beberapa fase:
• A. Tajalli Af'al (Menyaksikan Perbuatan-Nya).
Seseorang melihat bahwa segala kejadian di alam semesta ini adalah perbuatan Allah.
- Ciri: la tidak lagi mencaci makhluk atau keadaan. Jika mendapat nikmat ia bersyukur pada-Nya, jika mendapat musibah ia bersabar karena tahu itu datang dari-Nya.
• B. Tajalli Asma' wa Sifat (Menyaksikan Nama dan Sifat-Nya).
Hati menyadari keagungan Sifat-sifat Allah di balik segala sesuatu.
- Contoh: Ketika melihat keindahan bunga, ia tidak terpaku pada bunga itu, melainkan hatinya bergetar menyaksikan Sifat Al-Jamal (Maha Indah). Ketika melihat badai, ia menyaksikan Sifat Al-Qahhar (Maha Menundukkan).
• C. Tajalli Dzat (Musyahadah Dzat).
Inilah puncak tertinggi, di mana seorang hamba
"fana" (lebur) dari dirinya sendiri dan hanya
menyaksikan eksistensi Allah. la merasa dirinya tidak ada, yang ada hanyalah Allah (Lā mawjüda illalläh).
3. Karakteristik Orang yang Mencapai Maqam
Musyahadah.
Bagaimana kita mengenali tanda-tanda orang yang sudah sampai pada tahap ini?
• Ketenangan Hati (Thuma'ninah): Mereka tidak
mudah goyah oleh urusan duniawi. Dunia baginya hanyalah "bayangan" yang tidak berhak mengganggu ketenangan hatinya dengan Sang Khaliq.
• Akhlak yang Luhur: Karena ia menyaksikan Allah dalam setiap makhluk, ia menjadi sangat lembut, pengasih, dan tidak pernah merendahkan siapapun. la melihat "tangan" Tuhan di balik setiap hamba-Nya.
• Terlepas dari Ketergantungan pada Sebab: la
bekerja secara lahiriah, namun hatinya sama sekali tidak bergantung pada gaji, manusia, atau usahanya. Hatinya hanya terpaut pada Sang Pemberi Rezeki.
• Ibadah yang Lezat: Ibadah baginya bukan lagi
beban atau sekadar kewajiban, melainkan waktu pertemuan (liqa') yang sangat dirindukan.
4. Contoh Ilustrasi (Kisah Sufistik).
- Seorang murid bertanya kepada gurunya, "Wahai Guru, bagaimana rasanya melihat Allah di dunia?"
Sang Guru memberikan sebuah gelas berisi air yang sangat jernih. Beliau berkata, "Lihatlah ke dalam air ini." Murid itu melihat pantulan awan, pohon, dan wajahnya sendiri. Lalu Sang Guru meneteskan setetes tinta hitam. Air itu menjadi keruh. “Dapatkah kau melihat dasar gelas ini?" tanya GUrU.
- "Tidak, Guru, karena airnya kotor," jawab Murid.
• Pesan: Air itu adalah Hati. Tinta itu adalah Dosa dan Keterikatan Dunia.
Orang yang menyaksikan Allah adalah mereka yang telah membersihkan hatinya (Tazkiyatun Nafs) sehingga "air" di hatinya menjadi sangat jernih.Ketika hati itu jernih, Cahaya Allah (Nurullah) akan memantul di sana tanpa penghalang.
~ Kesimpulan:
Menyaksikan Allah bukanlah sebuah klaim lisan, melainkan pengalaman ruhani yang dibuktikan dengan:
• Lahiriah: Taat pada Syariat.
• Batiniyah: Selalu ingat kepada Allah dalam setiap hembusan nafas.
Seseorang yang sudah sampai di maqam ini
biasanya menjadi orang yang paling rendah hati, karena ia tahu bahwa dirinya adalah "nol" dan Allah adalah Segalanya.
No comments:
Post a Comment