#Tidak sempurna makrifat seseorang jika ia belum mengetahui dua rahasia besar dalam dirinya.
Pertama, apa yang mula-mula diciptakan oleh Allah SWT.
Kedua, dari apa asal kejadian dirinya sendiri.
Awal tajalli penciptaan bukanlah langit, bumi, malaikat, ataupun alam semesta.
Yang pertama kali Allah ciptakan adalah Nabi Muhammad dalam hakikat cahayanya, yang dikenal sebagai Nur Muhammad.
Sebelum alam diciptakan, Allah menampakkan cahaya Muhammad dari cahaya-Nya sebagai asal seluruh wujud makhluk.
Dari Nur inilah kemudian Allah menurunkan berbagai tingkatan penciptaan alam semesta.
Maka seluruh alam pada hakikatnya berasal dari percikan Nur Muhammad.
Asal Kejadian Diri Manusia Jika seseorang ingin mengenal dirinya secara makrifat, ia harus memahami bahwa diri manusia terbentuk dari dua sisi- zahir dan batin.
1..Zahir (Tubuh)
Tubuh manusia tersusun dari 4 (empat) unsur alam,yaitu-
tanah
air
angin
api
Empat unsur ini merupakan bahan pembentuk jasad manusia.
Namun unsur-unsur tersebut tidak berdiri sendiri. Hakikatnya unsur api adalah simbol energi kehidupan yang bersumber dari Nur Muhammad.
Dari sinilah jasad manusia memperoleh daya hidup dan gerak.
2.Batin (Ruh)
Adapun Ruh manusia berasal dari cahaya yang sama, yaitu Nur Muhammad yang menjadi asal segala ruh.
Ruh manusia adalah percikan dari cahaya Muhammad yang diturunkan ke alam jasad.
Hakikat Manusia dari penjelasan ini dapat difahami bahwa- Zahir manusia berasal dari unsur alam yang bersumber dari Nur Muhammad.
Batin manusia juga berasal dari cahaya Nur Muhammad. Dengan demikian asal zahir dan batin manusia bertemu pada satu sumber cahaya yang sama yaitu Nur Muhammad.
Inilah sebabnya manusia dalam pandangan makrifat sering disebut sebagai- Nurun ‘ala Nurin cahaya di atas cahaya.
Istilah ini menggambarkan bahawa dalam diri manusia terdapat lapisan cahaya yang saling bertingkat-
cahaya ruh
cahaya hati
cahaya sirr hingga cahaya makrifat.
Semakin seseorang mengenal asal dirinya, semakin ia menyadari bahwa hakikat dirinya adalah cahaya yang berasal dari sumber cahaya.
Dan ketika seorang salik benar-benar mengenal rahsia ini, maka ia akan memahami sabda hikmah para arif- 'Man Arafa Nafsahu Faqod Arafa Rabbahu',
yang bererti mengenal dirinya maka mengenal Tuhannya.
Kerana mengenal diri adalah pintu menuju mengenal asal cahaya tempat segala wujud bermula.
Makna Nur Muhammad dalam hakikat tasawuf adalah salah satu pembahasan terdalam. Ini bukan sekadar sejarah atau cerita, tetapi menyentuh asal-usul wujud dan hubungan antara Tuhan, Rasul, dan makhluk.
Aku jelaskan secara berurutan, jelas, dan mendalam, supaya tidak mudah disalahpahami.
1. Apa itu Nur Muhammad (secara hakikat)
Dalam pandangan tasawuf, Nur Muhammad adalah:
Cahaya pertama yang Allah ciptakan sebelum segala sesuatu.
Para sufi memahami bahwa sebelum ada alam semesta, belum ada langit, bumi, malaikat, bahkan belum ada manusia—yang pertama kali “ditampakkan” adalah cahaya Nabi Muhammad (hakikatnya).
Namun perlu dipahami:
Ini bukan tubuh fisik Nabi
Tapi hakikat ruhani beliau, yaitu cahaya kesadaran paling murni
➡️ Jadi, Nur Muhammad = asal mula semua ciptaan dalam bentuk cahaya kesadaran ilahi
2. Nur Muhammad sebagai asal penciptaan
Dalam hakikat tasawuf:
Dari Nur Muhammad → tercipta seluruh alam
Ia seperti “benih pertama” dari wujud
Analogi sederhana:
Matahari → memancarkan cahaya
Cahaya → menerangi seluruh benda
Maka:
Allah = sumber mutlak (bukan cahaya, tapi Maha Sumber)
Nur Muhammad = pancaran pertama
Alam = pancaran berikutnya
➡️ Artinya: seluruh makhluk pada hakikatnya berasal dari satu cahaya yang sama
3. Kedudukan Nur Muhammad dalam diri manusia
Dalam tasawuf, manusia bukan sekadar tubuh.
Di dalam diri manusia ada:
Nafsu
Akal
Ruh
Dan paling dalam: sirr (rahasia ilahi)
Nah, Nur Muhammad itu:
Ada sebagai potensi cahaya dalam diri manusia
Maknanya:
Ketika hati kotor → cahaya itu tertutup
Ketika hati bersih → cahaya itu tampak
➡️ Maka perjalanan tasawuf = menyingkap kembali Nur Muhammad dalam diri
4. Hubungan Nur Muhammad dengan Nabi Muhammad (lahir)
Nabi Muhammad secara fisik adalah:
Manusia biasa (makan, minum, hidup)
Tapi secara hakikat:
Beliau adalah manifestasi paling sempurna dari Nur Muhammad
Artinya:
Semua manusia punya “percikan”
Tapi Nabi Muhammad adalah cermin paling sempurna dari cahaya itu
➡️ Maka beliau disebut:
Insan Kamil (manusia sempurna)
5. Nur Muhammad dan konsep “fana”
Ketika seorang salik (pencari) berjalan dalam tasawuf:
Tahapnya:
Membersihkan diri (tazkiyah)
Menghilangkan ego (nafsu)
Fana (lebur diri)
Saat fana:
Yang hilang = ego (aku palsu)
Yang tampak = cahaya hakiki
➡️ Di sinilah Nur Muhammad mulai “terasa”
Namun hati-hati:
Ini bukan berarti jadi Nabi
Tapi menyadari bahwa hakikat diri berasal dari cahaya yang sama
6. Bahaya salah paham (ini penting)
Banyak yang keliru memahami:
❌ Menganggap Nur Muhammad = Tuhan
❌ Menganggap diri sudah sama dengan Nabi
❌ Merasa tidak perlu syariat
Padahal:
Nur Muhammad tetap ciptaan Allah
Nabi Muhammad tetap utusan Allah
Syariat tetap jalan wajib
➡️ Hakikat tanpa syariat = sesat
➡️ Syariat tanpa hakikat = kering
Keduanya harus seimbang
7. Inti terdalam makna Nur Muhammad
Kalau diringkas secara hakikat:
Nur Muhammad adalah cahaya kesadaran ilahi pertama, asal dari segala wujud, yang juga tersembunyi dalam diri manusia, dan akan tampak ketika hati telah bersih dari ego.
8. Penutup (biar mudah dipahami)
Urutan sederhananya:
Allah → Maha Sumber
Nur Muhammad → Cahaya pertama
Alam semesta → Pancaran berikutnya
Manusia → Mengandung cahaya itu
Tasawuf → Jalan kembali menyadarinya
No comments:
Post a Comment