Jejak Para Wali - 4
DZAT DAN LA TA’AYYUN MENURUT PARA WALI
1. DEFINISI DZAT
Dalam tasawuf, Dzat Allah adalah:
hakikat paling dalam dari Allah yang tidak bisa dijangkau oleh akal, indera, maupun imajinasi.
Para sufi menegaskan:
Dzat bukan sifat, bukan nama, bukan bentuk, dan bukan sesuatu yang bisa dibayangkan.
Menurut Ibn Arabi:
Dzat adalah hakikat Allah yang mutlak, yang tidak terikat oleh apa pun, bahkan oleh penampakan-Nya sendiri.
2. APA ITU LA TA’AYYUN
La Ta’ayyun berarti:
ketiadaan penentuan, ketiadaan bentuk, ketiadaan pembatasan.
Dalam istilah tasawuf:
La Ta’ayyun adalah keadaan di mana Dzat Allah belum “menampakkan” diri dalam bentuk apa pun, bahkan belum dalam nama dan sifat.
Artinya:belum ada pembeda ,belum ada identitas ,belum ada relasi dengan makhluk
3. HUBUNGAN DZAT DAN LA TA’AYYUN
Para wali menjelaskan:
La Ta’ayyun bukan sesuatu yang terpisah dari Dzat,
-tetapi cara untuk menjelaskan bahwa: Dzat Allah berada di luar segala penentuan.
Menurut Ibn Arabi:
La Ta’ayyun adalah kedudukan Dzat dalam kemutlakannya, sebelum segala tajalli (penampakan).
Jadi: Dzat = hakikat Allah
La Ta’ayyun = keadaan Dzat yang tidak terdefinisi sama sekali
4. PENJELASAN PARA WALI
Menurut Ibn Arabi
Beliau menjelaskan bahwa:
Pada tingkat La Ta’ayyun: tidak ada nama Allah , tidak ada sifat Allah , tidak ada hubungan Tuhan dan makhluk
Yang ada hanya:
keberadaan mutlak yang tidak bisa dikatakan apa-apa tentang-Nya.
Ini sering disebut juga:
“Ghaib al-ghuyub” (yang paling tersembunyi dari segala yang tersembunyi).
Menurut Junayd al-Baghdady
Junayd al-Baghdady menekankan kehati-hatian:
Allah pada hakikat-Nya tidak bisa dijangkau oleh pikiran.
Segala yang terlintas dalam pikiran, itu bukan Allah.
Ini sejalan dengan La Ta’ayyun:
bahwa Dzat tidak bisa ditentukan oleh konsep apa pun.
Menurut Al-Ghazali
Al-Ghazali menegaskan:
Puncak makrifat adalah ketika seseorang sadar bahwa ia tidak mampu mengetahui hakikat Allah.
Ini menunjukkan:
Dzat dalam keadaan La Ta’ayyun tidak bisa dicapai oleh pengetahuan biasa.
5. HUBUNGANNYA DENGAN TAJALLI
Dalam ajaran tasawuf, khususnya menurut Ibn Arabi:
Ada perbedaan antara: Dzat (La Ta’ayyun) , Tajalli (penampakan)
Penjelasannya:
Dzat: tidak tampak, tidak terdefinisi
Tajalli: adalah penampakan Allah melalui: nama-nama-Nya , sifat-sifat-Nya , alam semesta
Jadi: yang kita kenal dalam kehidupan bukan Dzat secara langsung, melainkan tajalli-Nya.
6. INTI PALING DALAM
Para wali sepakat:
Dzat Allah pada tingkat La Ta’ayyun: tidak bisa dijelaskan, tidak bisa dibayangkan, tidak bisa dijangkau
Dan semua penjelasan hanyalah pendekatan, bukan hakikat.
RINGKASAN PARA WALI
Dzat Allah dalam pandangan para wali adalah hakikat mutlak yang tidak dapat dijangkau oleh akal dan tidak dapat dibatasi oleh apa pun.
Istilah La Ta’ayyun digunakan untuk menggambarkan keadaan Dzat yang belum terdefinisi, belum memiliki bentuk, nama, atau sifat yang dapat dipahami oleh manusia.
Dalam keadaan ini, tidak ada relasi, tidak ada pembeda, dan tidak ada penampakan.
Yang dikenal manusia hanyalah tajalli Allah melalui nama dan sifat-Nya, sementara Dzat tetap berada dalam kemutlakan yang tidak terjangkau.
No comments:
Post a Comment