*7-Martabat Nafsu*
*JALAN KEMBALI KEPADA ALLAH*
Untuk peningkatan jiwa manusia dari tingkat rendah ke tingkat tinggi dan sempurna harus melalui 7 martabat nafsu, iaitu:
1. Nafsu Amarah
Sebagian dari sifat-sifat orang pada martabat nafsu amarah ini ialah:
▪️Bakhil atau kikir
▪️Tamak dan loba kepada harta benda
▪️Berlagak sombong
▪️takabbur (membanggakan diri)
▪️Suka bermegah- megahanan dan bermewah- mewahan
▪️Ingin namanya terkenal dan populer
▪️Hasad dan dengki
▪️Berniat jahat dan khianat
▪️Lupa kepada Allah SWT
▪️Dan lain-lain sifat tercela.
2. Nafsu Lawwamah
Diantara sifat-sifat tercela dari nafsu lawwamah ini adalah:
▪️Menyadari kesalahan diri atau menyesal berbuat kejahatan
▪️Timbul perasaan takut kalau bersalah
▪️Kritis terhadap apa saja yang dinamakan kejahatan
▪️Heran kepada diri sendiri, mengira dirinya lebih baik dari orang lain (ujub)
▪️Memperbuat suatu kebaikan agar dilihat dan dikagumi orang (riya’)
▪️Menceritakan kebaikan yang telah diperbuatnya supaya mendapat pujian orang (sum’ah)
▪️Dan lain-lain sifat tercela didalam hat.
3. Nafsu Mulhamah
Sifat-sifat yang timbul dari nafsu mulhamah ini antara lain:
▪️Tidak menyayangi harta benda (pemurah)
▪️Merasa cukup dengan apa yang ada (qana’ah)
▪️Mempunyai ilmu laduni, iaitu ilmu yang didapat dari ilham
▪️Timbul perasaan merendahkan diri kepada Allah (Tadlarru’)
▪️Taubat, memohon ampun kepada Allah dari dosa yang telah dikerjakan
▪️Sabar dalam segala hal yang menimpa
▪️Tenang menghadapi segala kesulitan
4. Nafsu Muthmainnah
Diantara sifat-sifat keruhanian yang timbul dari nafsu muthmainnah adalah:
▪️Pemurah dan suka bersedekah (Karamah)
▪️Menyerahkan diri kepada Allah (Tawakkal)
▪️Bersifat arif dan bijaksana
▪️Kuat beramal dan kekal mengerjakan sholat
▪️Mensyukuri nikmat yang diperoleh dengan membesarkan Allah
▪️Menerima dengan rasa puas apa yang dianugerahkan Allah (redha) menerima qada' dan qadar
▪️Takwa kepada Allah (Taqwallah)
▪️Dan lain-lain sifat yang mulia.
5. Nafsu Radhiah
Sifat-sifat keruhanian yang timbul dari nafsu radhiah ini antara lain adalah:
▪️Zuhud dari dunia
▪️Ikhlas kepada Allah
▪️Wara’ dalam ibadat
▪️Meninggalkan segala sesuatu yang bukan pekerjaannya
▪️Menunaikan dan menetapkan hukum- hukum Allah
▪️Dan lain-lain perangai mulia dan terpuji.
6.Nafsu Mardhiah
Martabat nafsu mardhiah ini lebih tinggi dari martabat nafsu radhiah, kerana segala perilaku orang nafsu ini, baik perkataan maupun perbuatan adalah diredhai Allah dan diakui-Nya.
Diantara sifat-sifat akhlak mulia dan terpuji yang timbul dari martabat nafsu ini adalah sebagai berikut:
▪️Baik budi pekertinya seperti akhlak Nabi-nabi
▪️Ramah tamah dalam pergaulan dengan masyarakat sebagaimana perangai para Nabi
*•Senantiasa merasa berdampingan dengan Allah (Laa Ilaha Illallah, Muhammadar Rasulullah)*
▪️Selalu berfikir pada kebesaran Allah
▪️Redha dengan apa saja pemberian Allah
▪️Dan lain-lain budi pekerti yang luhur dan terpuji
7. Nafsu Kamilah
Martabat nafsu kamilah ini adalah nafsu yang tertinggi dan teristimewa dari maqam wali yang lain, karena ia dapat menghimpun antara bathin dan lahir antara hakikat dan syariat.
Kerananya dia dinamakan maqam “Baqa Billah” atau “Kamil Mukammil” atau “Insanul Kamil”.
Hati mereka kekal dengan Allah meskipun di waktu tidur, karena mereka dapat musyahadah dengan Allah dalam setiap waktu.
Maqam “Baqa Billah” ini tidak dapat dinilai dengan kebendaan berbentuk apa saja di alam ini, karena itu ia merupakan maqam khawasul khawas.
Segala gerak geri dan perilaku orang martabat nafsu kamilah ini adalah ibadat semata-mata.
Tazkiyatun Nafs (تزكية النفس) berarti penyucian jiwa atau pembersihan diri batin.
Istilah ini berasal dari dua kata:
Tazkiyah (تزكية) = membersihkan, menyucikan, sekaligus menumbuhkan.
Nafs (النفس) = diri, jiwa, atau lapisan ego yang memiliki keinginan dan dorongan.
Jadi, Tazkiyatun Nafs adalah proses membersihkan nafs dari sifat-sifat buruk agar qalb menjadi jernih dan ruh lebih mudah menerima cahaya petunjuk Allah.
Landasan dalam Al-Qur'an
Dalam Al-Qur'an, Surah Asy-Syams ayat 9–10:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
Ayat ini menjadi dasar utama ajaran tazkiyah
Mengapa Tazkiyatun Nafs Penting?
Nafs yang belum disucikan cenderung dipenuhi oleh:
Kesombongan
Riya (ingin dipuji)
Hasad (dengki)
Amarah
Cinta dunia berlebihan
Ujub (bangga diri)
Ego merasa “aku paling benar”
Jika nafs menguasai diri, qalb menjadi tertutup. Jika nafs dibersihkan, qalb menjadi cermin yang memantulkan Nur Ilahi.
Hubungan Nafs, Qalb, dan Ruh
Urutan perjalanan batin
Nafs → lapisan keinginan dan ego.
Qalb → pusat kesadaran spiritual yang dapat berbolak-balik.
Ruh → unsur halus yang berasal dari perintah Allah.
Ma'rifat → pengenalan mendalam kepada Allah.
Tazkiyatun nafs adalah tahap awal yang sangat penting. Saat ego mulai tenang, qalb lebih jernih, dan ruh lebih terasa membimbing.
Tingkatan Nafs
1. Nafs Ammarah
Mendorong kepada hawa nafsu dan keburukan.
2. Nafs Lawwamah
Mulai menyesali kesalahan dan sadar akan kekurangan.
3. Nafs Muthmainnah
Jiwa yang tenang dan ridha kepada Allah.
Disebut dalam Al-Fajr ayat 27:
“Wahai jiwa yang tenang...”
Cara Praktis Melakukan Tazkiyatun Nafs
1. Muhasabah
Mengoreksi diri setiap hari.
2. Taubat
Membersihkan hati dari dosa dan kebiasaan buruk.
3. Dzikir
Mengingat Allah secara terus-menerus.
4. Muraqabah
Merasa diawasi Allah setiap saat.
5. Mujahadah
Bersungguh-sungguh melawan dorongan ego.
6. Ikhlas
Meluruskan niat hanya untuk Allah.
Tanda-Tanda Nafs Mulai Bersih
Lebih mudah menerima nasihat
Emosi lebih terkendali
Berkurangnya keinginan dipuji
Hati lebih tenang
Dzikir terasa lebih hidup
Timbul kasih sayang dan kerendahan hati
Analogi Cermin
Qalb seperti cermin.
Debu = dosa, ego, hawa nafsu
Pembersihan = tazkiyatun nafs
Cahaya yang tampak = Nur petunjuk Allah
Semakin bersih cermin, semakin jelas pantulan cahaya.
Tujuan Akhir
Tujuan tazkiyah bukan sekadar menjadi “orang baik”, tetapi agar hati menjadi jernih untuk mengenal Allah, sejalan dengan firman-Nya dalam Adz-Dzariyat ayat 21:
“Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?”
Inti Singkat
Tazkiyatun Nafs adalah perjalanan membersihkan ego dan sifat-sifat buruk agar qalb menjadi jernih, ruh terasa hidup, dan seseorang semakin mengenal Allah.#m
7 TINGKATAN MAKRIFAT
Makrifat Af'al
Mengenal Allah dari perbuatan-Nya
Seseorang mulai sadar bahwa segala kejadian bukan kebetulan.
Rezeki, musibah, pertemuan, kehilangan-semua terjadi karena Af'alullah (perbuatan Allah).
Hasil batinnya:
berhenti menyalahkan makhluk
mulai belajar ridha
sadar bahwa yang "bekerja" sebenarnya bukan manusia
Manusia sebab, Allah pelaku.
2 Makrifat Asmā'
Mengenal Allah melalui Nama-Nama-Nya
Hati mulai membaca kehidupan lewat Asmaul Husna.
Ketika disempitkan
Al-Qābid
Ketika diluaskan Al-Basith
Ketika disakiti Al-'Adl sedang bekerja
Hasil batinnya:
hati tidak protes pada takdir
setiap kejadian punya "Nama" yang sedang tampak
cinta dan takut mulai seimbang
3 Makrifat Şifāt
Mengenal Allah dari Sifat-Nya
Di sini disadari bahwa:
hidup
karena Hayy
ilmu karena 'Ilm
kuasa karena Qudrah
Manusia tidak merasa memiliki apa-apa, semua hanya pantulan sifat.
Hasil batinnya:
hilangnya rasa "aku hebat"
muncul amanah, bukan kebanggaan
takut menggunakan nikmat tanpa adab
4 Makrifat Dzāt
Penyaksian keesaan Dzat (tauhid paling dalam)
Ini bukan membayangkan Allah, bukan menyatu secara fisik, dan bukan merasa menjadi Tuhan (ini SESAT).
Yang terjadi adalah: lenyapnya pengakuan selain Dia.
Bukan "aku melihat Allah", tapi tiada yang disaksikan selain Dia.
Hasil batinnya:
hancurnya klaim diri
diam lebih banyak daripada bicara
takut besar pada penyimpangan akidah
5 Fanā'
Luruhnya ego dan identitas palsu
Keinginan pribadi melemah.
Nama, peran, luka, prestasi-semua tak lagi melekat.
Bukan hilang kesadaran,
tapi hilang kepentingan diri.
Hasil batinnya:
tidak tersinggung
tidak haus pengakuan
tidak merasa "sudah sampai"
6 Baqā'
Hidup kembali dengan Allah
Setelah ego luruh, seseorang kembali ke dunia:
bekerja, berkeluarga, bermasyarakat.
Namun kini hidupnya:
taat tanpa beban
berbuat tanpa pamrih
hadir tanpa ingin diingat
Fanā' membuatmu hancur, Baqa' membuatmu berguna.
7 Insān Kāmil
Kesadaran utuh sebagai hamba
Kesadaran utuh sebagai hamba
Ini bukan gelar,
bukan status,
bukan pengakuan diri.
Insān Kāmil adalah:
tauhidnya utuh
adabnya hidup
cintanya luas
egonya nihil
Semakin dekat ke tahap ini,
semakin orang tak terlihat istimewa di mata manusia.
No comments:
Post a Comment