TAJALLĪ ALLAH MENURUT PARA WALI
Penampakan Realitas Ilahi dalam Alam dan Hati Manusia
Dalam tasawuf, tajallī adalah konsep penting yang menjelaskan bagaimana Realitas Ilahi menampakkan diri, baik pada alam maupun pada kesadaran manusia.
Para sufi selalu menegaskan: Allah tidak berubah menjadi sesuatu, tetapi menampakkan tanda-tanda-Nya.
1. DEFINISI TAJALLĪ
Secara bahasa, tajallī berarti: menjadi tampak, tersingkap, atau memancarkan diri.
Dalam tasawuf:
· Tajallī adalah penampakan atau penyinaran sifat-sifat Allah pada wujud makhluk atau pada kesadaran manusia.
· Ibn Arabi menegaskan: Alam bukan Allah, tetapi merupakan tempat tampaknya sifat-sifat Allah.
Analogi sederhana para WALI:
· Matahari tetap berada di langit.
· Cahayanya tampak di air, kaca, atau bumi.
· Air bukan matahari, tetapi matahari bertajalli pada air.
2. TAJALLĪ BUKAN PERUBAHAN DZAT ALLAH
Para sufi menekankan:
· Allah tidak berubah menjadi alam.
· Dzat Allah adalah mutlak, tidak terbatas, dan tidak bergantung, sedangkan alam bersifat terbatas, berubah, dan bergantung.
· Dengan demikian, tajallī lebih tepat dipahami sebagai penampakan sifat Allah, bukan perubahan dzat.
3. ARAH TAJALLĪ
Para sufi membedakan dua arah tajallī:
A. Tajallī Cahaya ke Cahaya
· Terjadi di alam ruh.
· Contohnya: Nur Ilahi, Nur ruh, Nur hati.
· Ayat dasar yang sering dijadikan rujukan: “Allah adalah cahaya langit dan bumi.”
· Berkaitan dengan Nur Muhammad dan alam ruhani.
· Menurut Ibn Arabi: Tajallī Cahaya ke Cahaya memungkinkan manusia mengalami pencerahan batin sebelum manifestasi lahiriah.
B. Tajallī Cahaya ke Wujud
· Terjadi ketika cahaya Ilahi menampakkan diri dalam alam, manusia, atau peristiwa.
· Contoh manifestasi:
Kasih sayang ibu → tajallī Ar-Rahman , Keadilan → tajallī Al-Adl
Ilmu → tajallī Al-Alim
· Alam adalah mazhar, yaitu tempat tampaknya sifat-sifat Allah.
· Al-Ghazali menekankan: Tajallī ini memungkinkan manusia melihat jejak Ilahi tanpa menyentuh dzat-Nya.
4. INTI RANGKUMAN
· Tajallī adalah penampakan sifat Allah, bukan perubahan dzat.
· Ada dua bentuk tajallī: Cahaya ke Cahaya (alam ruhani, nur hati) dan Cahaya ke Wujud (alam nyata, ciptaan).
· Alam dan manusia berfungsi sebagai mazhar—tempat sifat Allah tampak.
· Pemahaman tajallī memungkinkan manusia mengalami makrifat, menyadari kehadiran Ilahi dalam diri, alam, dan peristiwa kehidupan sehari-hari.
No comments:
Post a Comment