INI BUKAN ZIKIRMU.
---
KAU HANYA WADAH.
"Zikir Bukan Milikmu." (Yang Bekerja di Dalam Dirimu Bukan Kamu.) "Kau mengira kau sedang berdzikir... padahal Allah sedang bekerja di dalam dirimu." "Berhentilah mengklaim amal. Biarkan Allah bekerja." Renungkan. Simpan. Jangan sombong. Bibirmu bergerak. Hatimu bergetar. Air matamu jatuh. Bukan karena engkau hebat-tapi karena Allah mengizinkanmu mengingat-Nya.
---
Zikir bukan milik hamba. Hamba hanya tempat Allah bekerja.
---
Murid: Guru... aku bingung. Aku bekerja, tapi katanya Allah yang menggerakkan. Aku berusaha, tapi Allah yang memberi hasil. Aku berdoa, Allah yang menjawab.Aku taat, Allah yang memberi taufik. Lalu... kalau aku berdzikir, siapa yang sebenarnya bekerja?
---
Guru: Kalau pertanyaan itu lahir dari dadamu...
itu tanda engkau sedang ditarik keluar dari klaim diri. Duduklah. Zikir bukan perkara ringan.
---
Murid: Bukankah zikir itu amalanku, Guru? Aku melafalkan, aku meluangkan waktu, aku memaksa diri. Guru: Itu yang tampak. Tapi tasawuf tidak berhenti di yang tampak. Coba jawab jujur: siapa yang pertama kali menggerakkan keinginan berdzikir di hatimu?
---
Murid: Aku... tidak tahu. Guru: Nah. Di situlah kebohongan ego mulai runtuh. Jika Allah tidak menghendaki,lidahmu akan berat, hatimu akan sibuk, dan waktumu akan selalu "tak sempat".
---
Murid: Jadi... keinginanku berdzikir bukan dariku? Guru: Keinginanmu hanyalah alamat. Yang mengirim suratnya adalah Allah. Engkau mengira engkau berdzikir, padahal Allah sedang mengingatkanmu agar mengingat-Nya.
---
Murid: Lalu rasa yang kadang muncul... tenang, hangat, kadang sesak lalu lega... itu apa? Guru: Itu bukan hasil latihanmu. Itu pekerjaan Allah di dalam dadamu. Zikir bukan untuk memamerkan suara, tapi untuk membongkar penghalang. Ego dikikis. Nafsu ditertibkan. Luka lama dibuka... lalu disembuhkan.
---
Murid:Tapi Guru, kenapa banyak orang berdzikir bertahun-tahun, namun tetap keras, sombong, dan merasa paling benar? Guru: Karena mereka mengklaim zikir sebagai miliknya. Selama engkau berkata, "Aku rajin berdzikir," "Aku sudah tinggi," "Aku sudah sampai," maka yang bekerja bukan zikir- melainkan ego yang menyamar sebagai ibadah.
---
Murid: Lalu... zikir yang benar itu bagaimana? Guru: Zikir yang benar menghilangkan klaim, bukan menambah kebanggaan. Pada awalnya engkau berkata: "Aku berdzikir." Di tengah jalan engkau sadar: "Aku dizikirkan." Di kedalaman, tidak ada lagi "aku". Yang ada hanya kehadiran.
---
Murid: Jadi... siapa aku di hadapan zikir?Guru: Engkau wadah. Tempat Allah bekerja. Seperti pena di tangan penulis. Pena bergerak, tapi bukan dia yang menulis. Murid: (suara bergetar) Kalau begitu... aku tak punya apa-apa?
---
Guru: Justru di situlah engkau mulai punya segalanya. Karena hamba yang selamat adalah hamba yang tahu: Zikir bukan miliknya. Hidayah bukan miliknya. Rasa bukan miliknya. Istiqamah bukan miliknya. Semuanya milik Allah.
---
Murid: Lalu tugasku apa, Guru?
Guru: Hadir. Rendah. Dan jangan menghalangi kerja Tuhan di dalam dirimu.Ingat ini baik-baik: Engkau berdzikir → Allah yang menggerakkan. Engkau merasa → Allah yang menghadirkan. Engkau tenang → Allah yang menetapkan. Engkau istiqamah → Allah yang menjaga. Jika suatu hari zikir terasa hilang, jangan sombong saat ada, jangan putus asa saat pergi. Karena sejak awal...
zikir itu bukan milikmu. Murid: Sekarang aku paham, Guru... Guru: Belum. Kalau kau benar-benar paham, yang tersisa hanya satu kalimat di hatimu: "Aku hanyalah tempat Allah bekerja."
No comments:
Post a Comment